‹
MN 116

Isigilisutta

Khotbah di Isigili

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

Ilustrasi pendamping Majjhima Nikāya MN 116, dengan Bunbun dan kucingnya sebagai saksi
KENALI DUNIA MN 116

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Isigili Sutta membawa pembaca ke gunung Isigili dekat Rājagaha. Buddha mengenang para paccekabuddha masa lampau, sehingga sutta ini terasa seperti penghormatan kepada jejak para bijaksana yang sunyi.

Potret Buddha
TOKOH

Buddha

Buddha menjadi pencerita utama, sementara para paccekabuddha hadir sebagai tokoh masa lampau yang dihormati.

TOKOH

Para paccekabuddha

Buddha menjadi pencerita utama, sementara para paccekabuddha hadir sebagai tokoh masa lampau yang dihormati.

TEMPAT

Isigili dekat Rājagaha

Gunung Isigili menjadi pusat suasana sutta ini, sebagai tempat yang menyimpan ingatan para petapa suci.

GAGASAN

Menghormati jejak kebijaksanaan

Sutta ini mengingatkan bahwa tempat dapat menyimpan makna latihan, kesunyian, dan penghormatan terhadap mereka yang telah menembus kebenaran.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Buddha menjelaskan berbagai keadaan yang tidak mungkin terjadi secara bersamaan dan keadaan yang mungkin terjadi menurut hukum pengalaman dan kamma. Sutta menyusun banyak pasangan: satu Buddha sempurna tidak muncul bersama Buddha sempurna lain dalam satu sistem dunia yang sama; tindakan tertentu membawa jenis akibat tertentu; dan kualitas moral membatasi arah hasil yang mungkin muncul. Rangkaian itu berfungsi seperti peta keteraturan Dhamma—bukan semua kemungkinan terbuka tanpa batas, karena sebab tertentu memiliki konsekuensi dan kondisi tertentu membuat hasil lain tidak mungkin.

mn116:6.1 Sumbha, Subha, Methula, dan Aṭṭhama,

mn116:6.2 lalu Assumegha, Anīgha, dan Sudāṭha,

mn116:6.3 Para Paccekabuddha, pemutus belenggu kelahiran kembali,

mn116:6.4 serta Hiṅgū dan Hiṅga yang perkasa.

mn116:6.5 Dua petapa bernama Jāli, dan Aṭṭhaka;

mn116:6.6 Kosala yang telah mencapai pencerahan, kemudian Subāhu;

mn116:6.8 Yang benar dan jujur, tanpa noda dan bijaksana.

mn116:6.9 Kāḷa dan Upakāḷa, Vijita dan Jita,

mn116:6.10 Aṅga dan Paṅga, dan juga Guttijita;

mn116:6.11 Passi melepaskan kemelekatan, akar penderitaan,

mn116:6.12 sedangkan Aparājita mengalahkan kekuatan Māra.

mn116:6.13 Satthar, Pavattar, Sarabhaṅga, Lomahaṁsa,

mn116:6.15 Manomaya, dan Bandhumā sang pemotong keangkuhan,

mn116:6.16 Kemudian Adhimutta, dan Ketumā yang tanpa noda.

mn116:6.18 lalu Accuta, Accutagāma, dan Byāmaka;

mn116:6.19 Sumaṅgala, Dabbila, Supatiṭṭhita,

mn116:6.22 Pertapa lainnya, Sayha, dengan usaha yang tak tertandingi;

mn116:6.23 Ada dua belas Ānanda, Nanda, dan Upananda,

mn116:6.24 Dan Bhāradvāja, yang membawa tubuh terakhirnya.

mn116:6.26 Kesī, Sikhī, Sundara, dan Bhāradvāja,

mn116:6.27 Tissa dan Upatissa, yang telah memutuskan belenggu kelahiran kembali,

mn116:6.28 Upasīdarī dan Sīdarī, yang keduanya telah memotong ketagihan.

mn116:6.29 Maṅgala telah mencapai pencerahan, bebas dari nafsu,

mn116:6.30 Usabha memotong jaring, akar penderitaan,

mn116:6.35 Mānatthaddha, yang indah dan bebas dari nafsu,

mn116:6.36 dan Buddha Kaṇha, yang pikirannya telah terbebas sempurna.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.