
Buddha
Buddha memberi pedoman kepada para bhikkhu agar penilaian terhadap pencapaian tidak dilakukan sembarangan.
Khotbah tentang Penyucian Enam Aspek

Chabbisodhana Sutta membahas cara memeriksa pengakuan pencapaian spiritual dengan hati-hati. Fokusnya bukan mencurigai orang, tetapi menjaga agar Dhamma tidak dikaburkan oleh klaim yang belum matang.

Buddha memberi pedoman kepada para bhikkhu agar penilaian terhadap pencapaian tidak dilakukan sembarangan.
Buddha memberi pedoman kepada para bhikkhu agar penilaian terhadap pencapaian tidak dilakukan sembarangan.
Sutta ini berlatar komunitas monastik yang membutuhkan standar jelas dalam menjaga kemurnian ajaran.
Pembebasan sejati terlihat dari pemahaman dan perilaku yang konsisten, bukan dari pengakuan semata.
Buddha memperingatkan para bhikkhu tentang bahaya menilai pencapaian orang lain dari apa yang mereka nyatakan. Seseorang mungkin mengaku mengetahui kelahiran telah berakhir, tetapi pernyataan itu perlu diperiksa dari cara ia berhubungan dengan hal-hal yang dapat membangkitkan keserakahan, kebencian dan kebodohan. Buddha menjelaskan bagaimana seorang yang benar-benar terbebas telah memahami enam landasan indra, pengalaman yang muncul melaluinya, dan kecenderungan batin yang biasanya tumbuh dari kontak. Ukuran pembebasan bukan kemegahan klaim, melainkan tidak adanya kondisi yang membuat batin kembali melekat.
mn112:15.1 When I saw a sight with my eyes, I didn’t get caught up in the features and details.
mn112:15.2 If the faculty of sight were left unrestrained, bad unskillful qualities of covetousness and displeasure would become overwhelming. For this reason, I practiced restraint, protecting the faculty of sight, and achieving its restraint.
mn112:15.3 When I heard a sound with my ears …
mn112:15.4 When I smelled an odor with my nose …
mn112:15.5 When I tasted a flavor with my tongue …
mn112:15.6 When I felt a touch with my body …
mn112:15.7 When I knew an idea with my mind, I didn’t get caught up in the features and details.
mn112:15.8 If the faculty of the mind were left unrestrained, bad unskillful qualities of covetousness and displeasure would become overwhelming. For this reason, I practiced restraint, protecting the faculty of the mind, and achieving its restraint.
mn112:15.9 When I had this noble sense restraint, I experienced an unsullied bliss inside myself.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.