
Buddha
Buddha menjadi guru yang memberi penilaian, sementara Sāriputta ditampilkan sebagai murid utama yang unggul dalam kebijaksanaan.
Khotbah Satu per Satu

Anupada Sutta menampilkan ketelitian Sāriputta dalam menelusuri keadaan batin satu demi satu. Sutta ini membantu pembaca melihat latihan bukan sebagai suasana samar, tetapi sebagai pengamatan yang jernih dan bertahap.

Buddha menjadi guru yang memberi penilaian, sementara Sāriputta ditampilkan sebagai murid utama yang unggul dalam kebijaksanaan.

Buddha menjadi guru yang memberi penilaian, sementara Sāriputta ditampilkan sebagai murid utama yang unggul dalam kebijaksanaan.
Latar pembabaran berada di sekitar Sāvatthī, pusat banyak ajaran penting dalam Majjhima Nikāya.
Latihan batin dipahami melalui perhatian yang teliti terhadap kualitas batin, bukan melalui dugaan atau kebanggaan spiritual.
Buddha memuji Sāriputta dan menjelaskan bagaimana kebijaksanaannya menembus keadaan meditasi satu demi satu. Dalam jhāna pertama hingga keempat, lalu pencapaian tanpa bentuk, Sāriputta mengetahui secara rinci kualitas-kualitas batin yang hadir, bagaimana kualitas itu muncul, berlangsung dan lenyap. Ia tidak menjadikan pencapaian tersebut sebagai diri atau miliknya. Bahkan keadaan yang sangat halus diperiksa dengan cara yang sama. Uraian akhirnya mencapai penghentian persepsi dan perasaan serta hancurnya noda, menggambarkan meditasi bukan sebagai tempat berdiam untuk dinikmati, tetapi sebagai pengalaman yang dapat diketahui dengan kejernihan dan dilepaskan.
mn111:9.1 Furthermore, with the giving up of pleasure and pain, and the disappearance of former happiness and sadness, he entered and remained in the fourth absorption, without pleasure or pain, with pure equanimity and mindfulness.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.