
Buddha
Guru yang membimbing para bhikkhu memahami pencapaian meditasi halus tanpa melekat padanya.
Khotbah tentang yang Kondusif bagi yang Tak Tergoyahkan

Buddha mengajarkan jalan menuju keadaan batin yang tidak tergoyahkan, termasuk pengembangan persepsi yang halus dan pelepasan terhadap landasan-landasan meditasi. Inilah Āneñjasappāya Sutta.

Guru yang membimbing para bhikkhu memahami pencapaian meditasi halus tanpa melekat padanya.
Pendengar yang diarahkan untuk memahami jalan menuju batin tidak tergoyahkan.
Wilayah Kuru yang sering menjadi latar ajaran mendalam tentang perhatian dan meditasi.
Bahkan pencapaian meditasi yang sangat halus tetap harus dilihat dengan kebijaksanaan agar tidak menjadi bentuk kemelekatan baru.
Buddha mengajarkan cara menggunakan persepsi untuk bergerak dari dunia indria menuju keadaan yang tidak tergoyahkan. Seorang praktisi merenungkan bahaya pada kenikmatan indria dan bentuk, lalu mengarahkan batin pada keadaan yang lebih tenang. Bahkan pencapaian tanpa bentuk seperti landasan ruang tanpa batas, kesadaran tanpa batas dan ketiadaan diperiksa sebagai sesuatu yang masih dapat dilekati. Pada setiap tingkat, latihan menuntut kemampuan melihat apa yang telah ditinggalkan dan apa yang masih tersisa. Uraian akhirnya menuju pelepasan yang tidak lagi bergantung pada pencapaian tertentu sebagai identitas atau tempat berpegang.
mn106:12.1 Take a mendicant who practices like this:
mn106:12.2 ‘It might not be, and it might not be mine. It will not be, and it will not be mine. I am giving up what exists, what has come to be.’
mn106:12.3 In this way they gain equanimity.
mn106:12.4 They don’t approve, welcome, or keep clinging to that equanimity.
mn106:12.5 So their consciousness doesn’t have that as support and fuel for grasping.
mn106:12.6 A mendicant free of grasping becomes extinguished.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.