
Buddha
Guru yang menjelaskan akar perpecahan dan jalan menjaga keharmonisan Sangha.
Khotbah di Sāmagāma

Setelah wafatnya Nigaṇṭha Nātaputta, para pengikutnya terpecah dan bertengkar. Ānanda menyampaikan kekhawatiran ini kepada Buddha, lalu Buddha menjelaskan sebab-sebab perselisihan dan cara menjaga keharmonisan komunitas. Inilah Sāmagāma Sutta.

Guru yang menjelaskan akar perpecahan dan jalan menjaga keharmonisan Sangha.

Murid setia yang menyampaikan kekhawatiran tentang perpecahan setelah wafatnya seorang pemimpin agama.
Pemimpin Jain yang wafatnya menjadi latar munculnya perpecahan di antara pengikutnya.
Tempat percakapan tentang perpecahan dan keharmonisan ini berlangsung.
Perselisihan bukan hanya soal perbedaan kata, tetapi soal sikap terhadap ajaran, disiplin, dan kerendahan hati dalam komunitas.
Ānanda kembali membicarakan kekacauan para pengikut Nigaṇṭha setelah kematian gurunya dan bertanya bagaimana Saṅgha akan bertahan setelah Buddha wafat. Buddha menekankan bahwa Dhamma telah diajarkan dengan lengkap dan para murid tidak bergantung pada pribadi guru sebagai pemilik ajaran. Percakapan kemudian mengulas sebab-sebab konflik, cara menanganinya, serta pentingnya tidak membiarkan perselisihan kecil berkembang menjadi perpecahan. Buddha juga membedakan kedekatan yang sehat dengan guru dari keterikatan pada guru, sehingga kelangsungan komunitas ditempatkan pada praktik Dhamma dan kedewasaan para murid.
mn104:5.1 “What do you think, Ānanda?
mn104:5.2 Do you see even two mendicants whose opinion differs regarding the things I have taught from my direct knowledge, that is,
mn104:5.3 the four kinds of mindfulness meditation, the four right efforts, the four bases of psychic power, the five faculties, the five powers, the seven awakening factors, and the noble eightfold path?”
mn104:5.4 “No, sir, I do not.
mn104:5.6 Nevertheless, there are some individuals who appear to live obedient to the Buddha, but when the Buddha has passed away they might create a dispute in the Saṅgha regarding livelihood or the monastic code.
mn104:5.7 Such a dispute would be for the detriment and unhappiness of the people, against the people, for the harm, detriment, and suffering of gods and humans.”
mn104:5.8 “Ānanda, dispute about livelihood or the monastic code is a minor matter.
mn104:5.9 But should a dispute arise in the Saṅgha concerning the path or the practice, that would be for the detriment and unhappiness of the people, against the people, for the harm, detriment, and suffering of gods and humans.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.