Pāṇātipātā viramassu khippaṁ,
Berhentilah membunuh makhluk hidup segera,
Bab Sunikkhitta
Kisah ini mengajak kita merenungkan bagaimana kita menyikapi kehilangan. Melalui dialog yang jenaka dan menyentuh, kita diajak melihat bahwa kebijaksanaan dapat muncul dari percakapan yang sederhana. Bacalah dengan hati terbuka, dan biarkan pesan tentang pelepasan dan keyakinan meresap pelan-pelan.
Seorang pemuda bernama Maṭṭhakuṇḍalī, yang telah meninggal dan terlahir di alam dewa, menampakkan diri kepada ayahnya yang sedang bersedih di tengah hutan. Melalui percakapan, ia menyadarkan ayahnya bahwa meratapi orang mati adalah sia-sia, seperti menangisi bulan yang tak mungkin digapai. Pemuda itu kemudian menjelaskan bahwa ia terlahir sebagai dewa karena pernah bersujud dengan hati gembira kepada Buddha saat sakit. Sang ayah pun terbuka hatinya, berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, serta bertekad menjalankan lima sila.
Pāṇātipātā viramassu khippaṁ,
Berhentilah membunuh makhluk hidup segera,
Loke adinnaṁ parivajjayassu;
Hindarilah mengambil yang tidak diberikan di dunia ini;
Amajjapo mā ca musā bhaṇāhi,
Jangan minum minuman keras dan jangan berkata dusta,
Sakena dārena ca hohi tuṭṭho”ti.
Dan berbahagialah dengan pasanganmu sendiri."