“Idānevāhaṁ jānāmi,
"Sekarang aku baru mengetahui,
Pāricchattakavagga
Kisah ini mengajak kita merenungkan bagaimana kualitas pemberian, bukan sekadar jumlahnya, menentukan hasilnya. Melalui dialog antara dewa dan dewi, kita diajak memahami pentingnya memilih objek pemberian yang tepat dan menghargai kebijaksanaan dalam berdana.
Seorang dewa di alam Tāvatiṁsa bertemu dengan dewi bernama Subhaddā yang bersinar melampaui para dewa lainnya. Subhaddā menjelaskan bahwa ia adalah istri dan adik perempuan dewa tersebut di kehidupan lampau. Ia menceritakan bahwa ia terlahir di alam Nimmānaratī karena memberikan delapan persembahan makanan kepada Saṅgha, mengikuti nasihat seorang bhikkhu bernama Revata. Dewa itu kemudian bertanya mengapa pemberiannya yang lebih banyak tidak menghasilkan buah sebesar itu, dan Subhaddā menjelaskan bahwa pemberian kepada Saṅgha, yang tak terukur, jauh lebih berbuah daripada pemberian kepada individu. Dialog ini diakhiri dengan pengakuan dewa tersebut dan pujian terhadap Saṅgha.
“Idānevāhaṁ jānāmi,
"Sekarang aku baru mengetahui,
saṅghe dinnaṁ mahapphalaṁ;
bahwa pemberian kepada Saṅgha berbuah besar;
Sāhaṁ gantvā manussattaṁ,
Maka aku, setelah kembali ke alam manusia,
vadaññū vītamaccharā;
akan menjadi dermawan, tanpa kekikiran;
Saṅghe dānāni dassāmi,
Kepada Saṅgha aku akan memberikan persembahan,
appamattā punappunan”ti.
dengan tekun, berulang-ulang."