Sīho yathā pabbatasānugocaro,
Bagaikan singa yang hidup di lereng gunung,
Pāricchattakavagga
Kisah ini mengajak kita merenungkan bagaimana sikap sehari-hari, terutama dalam hubungan rumah tangga, dapat membawa dampak besar bagi kehidupan sekarang dan mendatang. Mari simak percakapan para dewi ini dengan hati terbuka, dan lihat apa yang bisa kita petik untuk kehidupan kita sendiri.
Lima dewi yang mandi di sungai suci saling bertanya tentang asal-usul kebajikan mereka. Latā menjelaskan bahwa di kehidupan lampau ia menjadi menantu yang patuh, tanpa marah, tekun ber-Uposatha, dan menyenangkan suami serta mertua. Berkat perbuatan itu, ia memperoleh umur panjang, kecantikan, kebahagiaan, dan kekuatan di alam dewa. Para dewi lain pun sepakat untuk menjalankan kewajiban yang sama terhadap suami mereka.
Sīho yathā pabbatasānugocaro,
Bagaikan singa yang hidup di lereng gunung,
Mahindharaṁ pabbatamāvasitvā;
Diam di gunung Mahindhara;
Pasayha hantvā itare catuppade,
Setelah menaklukkan dan membunuh hewan berkaki empat lainnya,
Khudde mige khādati maṁsabhojano.
Ia memakan daging rusa kecil sebagai makanan dagingnya.