“Kiṁ tvaṁ pure sucaritamācarīdha,
“Perbuatan baik apa yang Engkau lakukan di sini dahulu,
Pīṭhavagga
Kisah ini mengajak kita merenungkan bagaimana perbuatan baik dan pemahaman Dhamma dapat membawa kebahagiaan melampaui kehidupan duniawi. Mari kita simak percakapan Sirimā dengan para bhikkhu, yang menunjukkan bahwa ajaran Buddha dapat diakses oleh siapa saja, bahkan dari kalangan istana.
Seorang bidadari bernama Sirimā, yang dulunya adalah dayang istana di Rājagaha, muncul di hadapan para bhikkhu dengan kereta dan kuda yang indah. Ia menjelaskan bahwa setelah mendengar ajaran Buddha tentang penderitaan, ketidakkekalan, dan jalan menuju kebebasan, ia mencapai tingkat kesucian sotāpanna. Kini ia kembali untuk menghormati Buddha dan para bhikkhu, menunjukkan buah dari keyakinan dan praktiknya.
“Kiṁ tvaṁ pure sucaritamācarīdha,
“Perbuatan baik apa yang Engkau lakukan di sini dahulu,
Kenacchasi tvaṁ amitayasā sukhedhitā;
Dengan apakah Engkau memperoleh kemasyhuran tak terukur dan kebahagiaan yang subur;
Iddhī ca te anadhivarā vihaṅgamā,
Kekuatan batin-Mu tak terlampaui, melayang di udara,
Vaṇṇo ca te dasa disā virocati.
Dan keindahan-Mu bersinar ke sepuluh penjuru.”