Mama ca, bhante, vacanena bhagavato pāde sirasā vandeyyāsi—
Dan, Bhante, sampaikanlah hormatku dengan kepala di kaki Bhagavā—
Pīṭhavagga
Kisah ini mengajak kita merenungkan bagaimana praktik moral sehari-hari, sekecil apa pun, dapat membawa dampak besar bagi kehidupan kita. Melalui dialog antara seorang bhikkhu dan dewati, kita diajak melihat hubungan antara perbuatan baik dan kebahagiaan yang dihasilkan. Mari kita baca dengan hati terbuka, dan biarkan pesan tentang pentingnya kebajikan dan kesadaran meresap dalam diri.
Dalam Vimānavatthu 15, seorang dewati bernama Uttarā menjelaskan kepada Yang Mulia Moggallāna bagaimana ia memperoleh keindahan dan kemakmuran surgawi. Ia mengungkapkan bahwa sebagai seorang upāsikā, ia menjalankan moralitas, menghindari iri hati, kekikiran, dan kemunafikan, serta tekun menjalankan Uposatha. Ia juga menyampaikan pesan hormat kepada Buddha dan mengungkapkan bahwa ia telah mencapai tingkat kesucian Sakadāgāmi.
Mama ca, bhante, vacanena bhagavato pāde sirasā vandeyyāsi—
Dan, Bhante, sampaikanlah hormatku dengan kepala di kaki Bhagavā—
‘uttarā nāma, bhante, upāsikā bhagavato pāde sirasā vandatī’ti.
‘Uttarā, Bhante, seorang upāsikā, bersujud dengan kepala di kaki Bhagavā.’
Anacchariyaṁ kho panetaṁ, bhante, yaṁ maṁ bhagavā aññatarasmiṁ sāmaññaphale byākareyya, taṁ bhagavā sakadāgāmiphale byākāsī”ti.
Dan ini bukanlah hal yang mengherankan, Bhante, bahwa Bhagavā akan menyatakan aku mencapai salah satu buah pertapaan; Bhagavā telah menyatakan aku mencapai buah Sakadāgāmi.”