Seperti halnya, para bhikkhu, sungai-sungai besar mana pun—yakni Gangga, Yamunā, Aciravatī, Sarabhū, dan Mahī—setelah sampai di samudra raya, melepaskan nama dan sebutan mereka sebelumnya, dan dikenal hanya sebagai ‘samudra raya’;
Furthermore, when they reach the ocean, all the great rivers—that is, the Ganges, Yamunā, Aciravatī, Sarabhū, and Mahī—lose their names and clans and are simply reckoned as ‘the ocean’.
demikian pula, para bhikkhu, keempat kasta—khattiya, brāhmaṇa, vessa, dan sudda—setelah meninggalkan kehidupan berumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah dalam Dhamma dan Vinaya yang dibabarkan oleh Tathāgata, melepaskan nama dan sebutan mereka sebelumnya, dan dikenal hanya sebagai ‘para petapa pengikut Sakya’.
In the same way, when they go forth from the lay life to homelessness, all four classes—aristocrats, brahmins, peasants, and menials—lose their former names and clans and are simply reckoned as ‘ascetics who follow the Sakyan’.
Dan lagi, para bhikkhu, bahwa keempat kasta—khattiya, brāhmaṇa, vessa, dan sudda—setelah meninggalkan kehidupan berumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah dalam Dhamma dan Vinaya yang dibabarkan oleh Tathāgata, melepaskan nama dan sebutan mereka sebelumnya, dan dikenal hanya sebagai ‘para petapa pengikut Sakya’;
ini, para bhikkhu, adalah keajaiban dan hal menakjubkan keempat dalam Dhamma dan Vinaya ini, yang dengan melihatnya berulang kali, para bhikkhu bergembira dalam Dhamma dan Vinaya ini.
This is the fourth thing the mendicants love about this teaching and training.