“Paṇḍito, bhikkhave, suppabuddho kuṭṭhī; paccapādi dhammassānudhammaṁ; na ca maṁ dhammādhikaraṇaṁ vihesesi.
“Para bhikkhu, Suppabuddha yang sakit kusta itu bijaksana. Ia mempraktikkan Dhamma sesuai dengan Dhamma, dan ia tidak menyusahkan-Ku mengenai hal-hal Dhamma.
“Mendicants, Suppabuddha was astute. He practiced in line with the teaching, and did not trouble me about the teachings.
Para bhikkhu, Suppabuddha yang sakit kusta itu, dengan hancurnya tiga belenggu, menjadi seorang pemasuk-arus, tidak akan lagi terlahir di alam rendah, pasti mencapai pencerahan.”
With the ending of three fetters, Suppabuddha is a stream-enterer, not liable to be reborn in the underworld, assured, destined for awakening.”