“Passathāyyā samaṇānaṁ sakyaputtiyānaṁ kammaṁ.
“Lihatlah perbuatan para petapa pengikut Sakya ini!
“See the deed of the ascetics who follow the Sakyan!
Khotbah tentang Sundarī
“Passathāyyā samaṇānaṁ sakyaputtiyānaṁ kammaṁ.
“Lihatlah perbuatan para petapa pengikut Sakya ini!
“See the deed of the ascetics who follow the Sakyan!
Alajjino ime samaṇā sakyaputtiyā dussīlā pāpadhammā musāvādino abrahmacārino.
Para petapa pengikut Sakya ini tidak tahu malu, tidak bermoral, dan berkarakter jahat. Mereka pembohong dan tidak menjalani kehidupan suci.
Shameless are these ascetics who follow the Sakyan, immoral and wicked. They are liars and unchaste.
Ime hi nāma dhammacārino samacārino brahmacārino saccavādino sīlavanto kalyāṇadhammā paṭijānissanti.
Mereka ini mengaku sebagai pelaku Dharma, pelaku perilaku baik, pelaku kehidupan suci, pengucap kebenaran, bermoral, dan berkarakter baik—padahal tidak demikian.”
Sure, they claim to be of principled and moral conduct, to be chaste, truthful, ethical, and of good character.
Natthi imesaṁ sāmaññaṁ, natthi imesaṁ brahmaññaṁ.
Mereka tidak memiliki kepertapaan, tidak memiliki kesucian.
But they have no asceticism, no spirituality.
Naṭṭhaṁ imesaṁ sāmaññaṁ, naṭṭhaṁ imesaṁ brahmaññaṁ.
Kepertapaan dan kesucian telah hilang dari mereka!
Asceticism and spirituality are lost to them!
Kuto imesaṁ sāmaññaṁ, kuto imesaṁ brahmaññaṁ?
Di manakah kepertapaan mereka, di manakah kesucian mereka?
Where is their asceticism, where their spirituality?
Apagatā ime sāmaññā, apagatā ime brahmaññā.
Mereka telah meninggalkan pertapaan dan kebijaksanaan spiritual!
They have abandoned asceticism and spirituality!
Kathañhi nāma puriso purisakiccaṁ karitvā itthiṁ jīvitā voropessatī”ti.
Bagaimana mungkin seorang laki-laki, setelah melakukan urusan laki-laki, dapat merenggut nyawa seorang perempuan!”
How on earth can a man, having done a man’s business, kill a woman!”