Atha kho āyasmā yasojo vassūpagato bhikkhū āmantesi:
Kemudian Yang Mulia Yasoja, setelah memasuki masa vassa, berkata kepada para bhikkhu:
Then Venerable Yasoja, having entered the rainy season, addressed the mendicants:
Khotbah tentang Yasoja
Atha kho āyasmā yasojo vassūpagato bhikkhū āmantesi:
Kemudian Yang Mulia Yasoja, setelah memasuki masa vassa, berkata kepada para bhikkhu:
Then Venerable Yasoja, having entered the rainy season, addressed the mendicants:
“bhagavatā mayaṁ, āvuso, paṇāmitā atthakāmena hitesinā, anukampakena anukampaṁ upādāya.
“Sahabat-sahabat, Bhagavā telah mengutus kami pergi karena menginginkan kebaikan kami, menginginkan kesejahteraan kami, dengan penuh belas kasih demi belas kasih-Nya.
“Out of sympathy, reverends, the Buddha dismissed us, wanting what’s best for us.
Handa mayaṁ, āvuso, tathā vihāraṁ kappema yathā no viharataṁ bhagavā attamano assā”ti.
Marilah, sahabat-sahabat, kita jalani kehidupan sedemikian rupa sehingga Bhagavā berkenan kepada kita dalam kehidupan kita ini.”
Come, let us live in such a way that the Buddha would be pleased with us.”
“Evamāvuso”ti kho te bhikkhū āyasmato yasojassa paccassosuṁ.
“Baik, Yang Mulia,” jawab para bhikkhu itu kepada Yang Mulia Yasaja.
“Yes, reverend,” they replied.
Atha kho te bhikkhū vūpakaṭṭhā appamattā ātāpino pahitattā viharantā tenevantaravassena sabbeva tisso vijjā sacchākaṁsu.
Kemudian para bhikkhu itu, dengan hidup menyendiri, tekun, bersemangat, dan bertekad bulat, dalam masa vassa itu juga semuanya mencapai tiga pengetahuan luhur.
Then those mendicants, living alone, withdrawn, diligent, keen, and resolute, all realized the three knowledges in that same rainy season.