Sejumlah bhikkhu mendengar Yang Mulia Bhaddiya, putra Kāḷīgodhā, baik ketika berada di hutan, di bawah pohon, maupun di tempat tinggal kosong, sering kali mengungkapkan seruan yang lahir dari lubuk hati:
Karena ketika mengenang kebahagiaan kerajaan yang dahulu ia nikmati semasa menjadi perumah tangga, baik ketika berada di hutan, di bawah pohon, maupun di tempat tinggal kosong, ia sering kali mengungkapkan seruan yang lahir dari lubuk hati:
It’s when recalling the pleasures of royalty he formerly enjoyed as a layperson that, even in the wilderness, at the foot of a tree, or in an empty dwelling, he frequently expresses this heartfelt sentiment: