Atha kho sabhiyo paribbājako tassā devatāya santike te pañhe uggahetvā ye te samaṇabrāhmaṇā saṅghino gaṇino gaṇācariyā ñātā yasassino titthakarā sādhusammatā bahujanassa, seyyathidaṁ—
Kemudian Sabhiya, setelah mempelajari pertanyaan-pertanyaan itu di hadapan dewata tersebut, mendatangi para petapa dan brahmana yang memiliki kelompok dan komunitas, yang menjadi guru bagi komunitas, yang terkenal dan termasyhur sebagai pendiri ajaran, yang dianggap suci oleh banyak orang, yaitu:
Then Sabhiya, after learning those questions in the presence of that deity, approached those ascetics and brahmins who led an order and a community, and taught a community, who were well-known and famous religious founders, deemed holy by many people. That is,
Pūraṇa Kassapa, petapa Gosāla yang bertongkat bambu, Ajita yang berselimut rambut, Pakudha Kaccāyana, Sañjaya Belaṭṭhiputta, dan petapa Jain dari klan Ñātika.
Pūraṇa Kassapa, the bamboo-staffed ascetic Gosāla, Ajita of the hair blanket, Pakudha Kaccāyana, Sañjaya Belaṭṭhiputta, and the Jain ascetic of the Ñātika clan.