Idaṁ dukkhaṁ, ayaṁ dukkhasamudayoti ayamekānupassanā.
‘Ini adalah penderitaan; ini adalah asal mula penderitaan’: ini adalah perenungan pertama.
‘This is suffering; this is the origin of suffering’: this is the first contemplation.
Khotbah tentang Merenungkan Pasangan-Pasangan
Idaṁ dukkhaṁ, ayaṁ dukkhasamudayoti ayamekānupassanā.
‘Ini adalah penderitaan; ini adalah asal mula penderitaan’: ini adalah perenungan pertama.
‘This is suffering; this is the origin of suffering’: this is the first contemplation.
Ayaṁ dukkhanirodho, ayaṁ dukkhanirodhagāminī paṭipadāti, ayaṁ dutiyānupassanā.
'Inilah lenyapnya penderitaan; inilah jalan menuju lenyapnya penderitaan': ini adalah perenungan yang kedua.
‘This is the cessation of suffering; this is the practice that leads to the cessation of suffering’: this is the second contemplation.
Evaṁ sammā dvayatānupassino kho, bhikkhave, bhikkhuno appamattassa ātāpino pahitattassa viharato dvinnaṁ phalānaṁ aññataraṁ phalaṁ pāṭikaṅkhaṁ—
Ketika seorang bhikkhu, para bhikkhu, berdiam dengan merenungkan dengan benar sepasang ajaran demikian—tekun, bersemangat, dan bertekad—maka salah satu dari dua buah dapat diharapkan:
When a mendicant meditates rightly contemplating a pair of teachings in this way—diligent, keen, and resolute—they can expect one of two results:
diṭṭheva dhamme aññā, sati vā upādisese anāgāmitā”ti.
pengetahuan langsung dalam kehidupan ini juga, atau jika masih ada sisa kemelekatan, keadaan tidak kembali lagi.”
enlightenment in this very life, or if there’s residue left behind, non-return.”