Kemudian Bhikkhu Kokālika bangkit dari duduknya, memberi hormat kepada Sang Bhagavā, berjalan mengelilingi Beliau dengan menghadapkan sisi kanan, lalu pergi.
Then Kokālika rose from his seat, bowed, and respectfully circled the Buddha, keeping him on his right, before leaving.
setelah sebesar biji sesawi, menjadi sebesar biji kacang hijau; setelah sebesar biji kacang hijau, menjadi sebesar biji kacang arab; setelah sebesar biji kacang arab, menjadi sebesar biji bidara; setelah sebesar biji bidara, menjadi sebesar buah bidara; setelah sebesar buah bidara, menjadi sebesar buah amalaka; setelah sebesar buah amalaka, menjadi sebesar buah bilva muda; setelah sebesar buah bilva muda, menjadi sebesar buah bilva masak; setelah sebesar buah bilva masak, bisul-bisul itu pecah, dan nanah serta darah mengalir keluar.
The boils grew to the size of mung beans, then chickpeas, then jujube seeds, then jujubes, then myrobalans, then unripe wood-apples, then ripe wood-apples. Finally they burst open, and pus and blood oozed out.
Kālaṅkato ca kokāliko bhikkhu padumaṁ nirayaṁ upapajji sāriputtamoggallānesu cittaṁ āghātetvā.
Setelah meninggal dunia, bhikkhu Kokālika terlahir kembali di neraka Paduma karena telah membangkitkan kebencian dalam batinnya terhadap Sāriputta dan Moggallāna.
He was reborn in the Pink Lotus hell because of his resentment for Sāriputta and Moggallāna.