“‘Yāvatā dhātūnaṁ dhātuṭṭho …pe…
“‘Sejauh apa pun hakikat unsur-unsur (dhātu) itu …
2.6. Pembahasan tentang Penembusan
“‘Yāvatā dhātūnaṁ dhātuṭṭho …pe…
“‘Sejauh apa pun hakikat unsur-unsur (dhātu) itu …
yāvatā āyatanānaṁ āyatanaṭṭho …pe…
sejauh apa pun hakikat bidang-bidang indra (āyatana) itu …
yāvatā saṅkhatānaṁ saṅkhataṭṭho …pe…
sejauh apa pun hakikat hal-hal yang terkondisi (saṅkhata) itu …
yāvatā asaṅkhatassa asaṅkhataṭṭho ñāto diṭṭho vidito sacchikato phassito paññāya.
sejauh apa pun hakikat yang tidak terkondisi (asaṅkhata) itu, telah diketahui, terlihat, dipahami, direalisasikan, dan disentuh oleh kebijaksanaan.
Aphassito paññāya asaṅkhataṭṭho natthī’ti—
Tidak ada hakikat yang tidak terkondisi yang tidak disentuh oleh kebijaksanaan’—
cakkhuṁ udapādi …pe…
maka muncullah mata …
āloko udapādi”.
Cahaya muncul.”
Asaṅkhatassa asaṅkhataṭṭhe pañcavīsati dhammā, pañcavīsati atthā, paññāsaṁ niruttiyo, sataṁ ñāṇāni.
Pada Yang Tak Terkondisi, dalam aspek ketakterkondisiannya, terdapat dua puluh lima fenomena, dua puluh lima makna, lima puluh istilah, seratus pengetahuan.