ps2.1:39.1 Bagi seseorang yang memperhatikan bentuk (rūpa) sebagai tidak kekal …
ps2.1:39.2 Bagi seseorang yang memperhatikan bentuk (rūpa) sebagai menyakitkan …
ps2.1:39.3 Bagi seseorang yang memperhatikan bentuk (rūpa) sebagai bukan diri …
ps2.1:39.4 Perasaan …
ps2.1:39.5 Persepsi …
ps2.1:39.6 Bentukan-bentukan mental …
ps2.1:39.7 Kesadaran …
ps2.1:39.8 Mata …
ps2.1:39.9 Ketika seseorang memperhatikan kelahiran dan kematian sebagai tidak kekal …
ps2.1:39.10 Ketika seseorang memperhatikan kelahiran dan kematian sebagai penderitaan, ketika seseorang memperhatikan kelahiran dan kematian sebagai bukan diri, muncullah cahaya … muncullah pengetahuan, muncullah kegembiraan, muncullah ketenangan, muncullah kebahagiaan, muncullah keyakinan, muncullah usaha, muncullah perhatian, muncullah keseimbangan batin, muncullah ketertarikan, dan ia merenungkan ketertarikan itu sebagai “ketertarikan adalah fenomena.”
ps2.1:39.11 Kemudian muncul kegelisahan dan keguncangan.
ps2.1:39.12 Pikirannya diganggu oleh keguncangan itu.
ps2.1:39.13 Ia tidak memahami kelahiran dan kematian sebagaimana adanya sebagai bukan diri.
ps2.1:39.14 Ia tidak memahami kelahiran dan kematian sebagaimana adanya sebagai tidak kekal, ia tidak memahami kelahiran dan kematian sebagaimana adanya sebagai penderitaan.
ps2.1:39.15 Oleh karena itu dikatakan:
ps2.1:39.16 “Pikirannya diganggu oleh keguncangan akibat fenomena.
ps2.1:39.17 Ada saatnya ketika pikiran itu menjadi tenang, mereda, menyatu, dan terkonsentrasi di dalam dirinya sendiri.
ps2.1:39.18 <b>Baginya jalan itu muncul</b>.”
ps2.1:39.19 Bagaimana jalan itu muncul …
ps2.1:39.20 Demikianlah jalan itu muncul.
ps2.1:39.21 Demikianlah belenggu-belenggu ditinggalkan dan kecenderungan-kecenderungan tersembunyi diakhiri.
ps2.1:39.22 Demikianlah pikiran diganggu oleh keguncangan akibat fenomena.