Pada saat kelahiran kembali, lima kelompok kehidupan menjadi kondisi ko-muncul, menjadi kondisi saling mendukung, menjadi kondisi penopang, dan menjadi kondisi keterpisahan.
Pada saat kelahiran kembali, tiga bentukan kehidupan menjadi kondisi ko-muncul, menjadi kondisi saling mendukung, menjadi kondisi penopang, dan menjadi kondisi keterpisahan.
Pada saat kelahiran kembali, nama dan bentuk menjadi kondisi ko-muncul, menjadi kondisi saling mendukung, menjadi kondisi penopang, dan menjadi kondisi keterpisahan.
Pada saat kelahiran kembali, empat belas fenomena ini menjadi kondisi ko-muncul, menjadi kondisi saling mendukung, menjadi kondisi penopang, dan menjadi kondisi keterpisahan.
Pada saat kelahiran kembali, empat kelompok kehidupan yang tidak berbentuk menjadi kondisi ko-muncul, menjadi kondisi saling mendukung, menjadi kondisi penopang, dan menjadi kondisi keterkaitan.
Pada saat kelahiran kembali, lima indria menjadi kondisi ko-muncul, menjadi kondisi saling mendukung, menjadi kondisi penopang, dan menjadi kondisi keterkaitan.
Pada saat kelahiran kembali, tiga akar menjadi kondisi ko-muncul, menjadi kondisi saling mendukung, menjadi kondisi penopang, dan menjadi kondisi keterkaitan.
Pada saat kelahiran kembali, nama dan kesadaran menjadi kondisi ko-muncul, menjadi kondisi saling mendukung, menjadi kondisi penopang, dan menjadi kondisi keterkaitan.
Pada saat kelahiran kembali, empat belas fenomena ini menjadi kondisi ko-muncul, menjadi kondisi saling mendukung, menjadi kondisi penopang, dan menjadi kondisi keterkaitan.
Pada saat kelahiran kembali, dua puluh delapan fenomena ini menjadi kondisi ko-muncul, menjadi kondisi saling mendukung, menjadi kondisi penopang, dan menjadi kondisi keterpisahan.
Bagi para khattiya agung, brahmana agung, dan perumah tangga agung, serta para dewa alam indrawi, kelahiran terjadi dengan delapan sebab yang disertai pengetahuan ini sebagai kondisi.