ps1.3:104.1 Bagaimana kebahagiaan-kebahagiaan itu dipahami?
ps1.3:104.2 Bagi yang mengetahui kekhusyukan pikiran dan ketidakteralihan sehubungan dengan napas masuk yang panjang, perhatian menjadi tegak.
ps1.3:104.3 Dengan perhatian itu, dengan pengetahuan itu, kenikmatan-kenikmatan itu telah dipahami dengan sempurna.
ps1.3:104.4 Bagi seorang yang mengetahui kekusatan pikiran dan ketidak-teralihkan sehubungan dengan hembusan napas panjang, perhatian menjadi tegak.
ps1.3:104.5 Dengan perhatian itu, dengan pengetahuan itu, kenikmatan-kenikmatan itu telah dipahami dengan sempurna … [dan seterusnya] …
ps1.3:104.6 Bagi seorang yang merealisasikan apa yang harus direalisasikan, kenikmatan-kenikmatan itu telah dipahami dengan sempurna.
ps1.3:104.7 Demikianlah kenikmatan-kenikmatan itu dipahami dengan sempurna.
ps1.3:104.8 Dengan merasakan kenikmatan sehubungan dengan hembusan napas, penegakan perhatian pada perasaan adalah pengetahuan pandangan-terus-menerus.
ps1.3:104.9 Penegakan pada perasaan, bukan perhatian;
ps1.3:104.10 perhatian adalah penegakan dan juga perhatian itu sendiri.
ps1.3:104.11 Dengan perhatian itu, dengan pengetahuan itu, ia merenungkan perasaan itu.
ps1.3:104.12 Oleh karena itu dikatakan:
ps1.3:104.13 “Pengembangan penegakan perhatian dengan merenungkan perasaan dalam perasaan.”