ps1.2:63.1 Bagaimana ia merenungkan diri sebagai berada dalam kesadaran?
ps1.2:63.2 Di sini seseorang merenungkan bentuk …
ps1.2:63.3 perasaan …
ps1.2:63.4 persepsi …
ps1.2:63.5 bentukan-bentukan sebagai diri.
ps1.2:63.6 Kemudian muncul dalam dirinya:
ps1.2:63.7 “Inilah diriku.
ps1.2:63.8 Dan sungguh, aku ini adalah diri di dalam kesadaran ini,” demikianlah ia merenungkan diri di dalam kesadaran.
ps1.2:63.9 Ia merenungkan diri di dalam kesadaran.
ps1.2:63.10 Seperti halnya sebuah permata yang diletakkan di dalam sebuah kotak.
ps1.2:63.11 Kemudian seseorang berkata kepadanya—
ps1.2:63.12 “Ini permata, ini kotak.
ps1.2:63.13 Berbeda permata, berbeda kotak.
ps1.2:63.14 Dan sungguh, permata ini ada di dalam kotak ini.”
ps1.2:63.15 Ia merenungkan permata di dalam kotak.
ps1.2:63.16 Demikian pula, seseorang di sini merenungkan bentuk …
ps1.2:63.17 perasaan …
ps1.2:63.18 persepsi …
ps1.2:63.19 sankhara sebagai diri.
ps1.2:63.20 Ia berpikir—
ps1.2:63.21 “Inilah diriku.
ps1.2:63.22 Dan sungguh, aku ini adalah diri di dalam kesadaran ini,” demikianlah ia merenungkan diri di dalam kesadaran.
ps1.2:63.23 Ia merenungkan diri di dalam kesadaran.
ps1.2:63.24 Kemelekatan yang gigih adalah pandangan salah.
ps1.2:63.25 Pandangan salah bukanlah objek, objek bukanlah pandangan salah.
ps1.2:63.26 Berbeda pandangan salah, berbeda objek.
ps1.2:63.27 Apa pun pandangan salah dan apa pun objeknya—
ps1.2:63.28 Ini adalah pandangan diri keempat yang berlandaskan pada kesadaran.
ps1.2:63.29 Pandangan diri adalah pandangan salah … selanjutnya …
ps1.2:63.30 ini adalah belenggu-belenggu, bukan pandangan-pandangan.
ps1.2:63.31 Demikianlah ia merenungkan diri dalam kesadaran.
ps1.2:63.32 Pada pandangan diri terdapat kemelekatan melalui dua puluh cara ini.
ps1.2:63.33 Uraian tentang pandangan diri, bagian kedua.