ps1.2:60.1 Bagaimana ia merenungkan <b>kesadaran sebagai diri?</b>
ps1.2:60.2 Di sini seseorang merenungkan kesadaran mata …
ps1.2:60.3 kesadaran telinga …
ps1.2:60.4 kesadaran hidung …
ps1.2:60.5 kesadaran lidah, kesadaran badan …
ps1.2:60.6 kesadaran pikiran sebagai diri.
ps1.2:60.7 "Apa yang merupakan kesadaran pikiran, itulah aku;
ps1.2:60.8 apa yang merupakan aku, itulah kesadaran pikiran"—
ps1.2:60.9 demikianlah ia merenungkan kesadaran pikiran dan diri sebagai tidak terpisah.
ps1.2:60.10 Bagaikan lampu minyak yang menyala, "apa yang merupakan nyala, itulah warna; apa yang merupakan warna, itulah nyala"—
ps1.2:60.11 demikianlah ia merenungkan nyala dan warna sebagai tidak terpisah.
ps1.2:60.12 Demikian pula, di sini seseorang merenungkan kesadaran pikiran sebagai diri.
ps1.2:60.13 “Apa yang merupakan kesadaran-pikiran, itulah aku;
ps1.2:60.14 aku ini adalah kesadaran-pikiran itu” —
ps1.2:60.15 demikianlah ia merenungkan kesadaran-pikiran dan diri sebagai tidak terpisah.
ps1.2:60.16 Kemelekatan yang mendalam adalah pandangan salah.
ps1.2:60.17 Pandangan bukanlah landasan, landasan bukanlah pandangan.
ps1.2:60.18 Berbeda pandangan, berbeda landasan.
ps1.2:60.19 Apa pun pandangan dan landasan itu —
ps1.2:60.20 inilah pandangan salah tentang diri yang pertama, dengan kesadaran sebagai landasannya.
ps1.2:60.21 Pandangan tentang diri adalah pandangan salah …pe…
ps1.2:60.22 ini adalah belenggu-belenggu, dan bukan pandangan-pandangan.
ps1.2:60.23 Demikianlah ia merenungkan kesadaran sebagai diri.