ps1.2:48.1 Bagaimana ia merenungkan perasaan sebagai diri?
ps1.2:48.2 Di sini seseorang merenungkan perasaan yang timbul dari kontak mata, perasaan yang timbul dari kontak telinga, perasaan yang timbul dari kontak hidung, perasaan yang timbul dari kontak lidah, perasaan yang timbul dari kontak tubuh, perasaan yang timbul dari kontak pikiran sebagai diri.
ps1.2:48.3 “Perasaan yang timbul dari kontak pikiran adalah aku; aku adalah perasaan yang timbul dari kontak pikiran itu”—
ps1.2:48.4 ia merenungkan perasaan yang timbul dari kontak pikiran dan diri sebagai tidak terpisah.
ps1.2:48.5 Seperti halnya lampu minyak yang menyala, “nyala adalah warna, warna adalah nyala”—
ps1.2:48.6 ia merenungkan nyala dan warna sebagai tidak terpisah.
ps1.2:48.7 Demikian pula, seseorang merenungkan perasaan yang timbul dari kontak pikiran sebagai diri.
ps1.2:48.8 “Perasaan yang timbul dari kontak pikiran adalah aku; aku adalah perasaan yang timbul dari kontak pikiran itu”—
ps1.2:48.9 ia merenungkan perasaan yang timbul dari kontak pikiran dan diri sebagai tidak terpisah.
ps1.2:48.10 Kemelekatan yang mendalam adalah pandangan salah.
ps1.2:48.11 Pandangan salah bukanlah landasan, landasan bukanlah pandangan salah.
ps1.2:48.12 Berbeda pandangan salah, berbeda landasan.
ps1.2:48.13 Apa pun pandangan salah dan apa pun landasannya—
ps1.2:48.14 inilah pandangan salah tentang diri yang pertama, yang berlandaskan perasaan.
ps1.2:48.15 Pandangan salah tentang diri adalah pandangan salah, kegagalan dalam pandangan … dan seterusnya …
ps1.2:48.16 ini adalah belenggu-belenggu, bukan pandangan-pandangan salah.
ps1.2:48.17 Demikianlah ia merenungkan perasaan sebagai diri.