Indriyānaṁ ādhipateyyaṭṭho abhiññeyyo;
Kebenaran indria harus dipahami sebagai fungsi kekuasaan;
1.1. Pembahasan tentang Pengetahuan (Ñāṇakathā)
Indriyānaṁ ādhipateyyaṭṭho abhiññeyyo;
Kebenaran indria harus dipahami sebagai fungsi kekuasaan;
balānaṁ akampiyaṭṭho abhiññeyyo;
Kebenaran kekuatan harus dipahami sebagai fungsi ketak tergoyahkan;
bojjhaṅgānaṁ niyyānaṭṭho abhiññeyyo;
Kebenaran faktor pencerahan harus dipahami sebagai fungsi penuntun keluar;
maggassa hetuṭṭho abhiññeyyo;
Kebenaran jalan harus dipahami sebagai fungsi sebab;
satipaṭṭhānānaṁ upaṭṭhānaṭṭho abhiññeyyo;
Kebenaran penegakan perhatian harus dipahami sebagai fungsi penegakan;
sammappadhānānaṁ padahanaṭṭho abhiññeyyo;
Kebenaran usaha benar harus dipahami sebagai fungsi pengusahaan;
iddhipādānaṁ ijjhanaṭṭho abhiññeyyo;
Kebenaran landasan kekuatan batin harus dipahami sebagai fungsi pencapaian;
saccānaṁ tathaṭṭho abhiññeyyo;
Kebenaran kebenaran-kebenaran mulia harus dipahami sebagai fungsi kebenaran hakiki;
payogānaṁ paṭippassaddhaṭṭho abhiññeyyo;
Kebenaran praktik harus dipahami sebagai fungsi penenangan;
phalānaṁ sacchikiriyaṭṭho abhiññeyyo. [10]
Kebenaran buah-buah harus dipahami sebagai fungsi realisasi langsung.