“Kenassu nappakāsatī”ti pañhe “vivicchā pamādā nappakāsatī”ti visajjanā.
Pada pertanyaan “Dengan apakah ia tidak bersinar?”, jawabannya adalah “Karena kebimbangan dan kelengahan, ia tidak bersinar.”
Pembagian 2
“Kenassu nappakāsatī”ti pañhe “vivicchā pamādā nappakāsatī”ti visajjanā.
Pada pertanyaan “Dengan apakah ia tidak bersinar?”, jawabannya adalah “Karena kebimbangan dan kelengahan, ia tidak bersinar.”
Yo puggalo nīvaraṇehi nivuto, so vivicchati.
Seseorang yang diselimuti oleh rintangan-rintangan batin, maka ia menjadi bimbang.
Vivicchā nāma vuccati vicikicchā.
Yang disebut kebimbangan adalah keragu-raguan.
So vicikicchanto nābhisaddahati, na abhisaddahanto vīriyaṁ nārabhati akusalānaṁ dhammānaṁ pahānāya kusalānaṁ dhammānaṁ sacchikiriyāya.
Karena bimbang, ia tidak berkeyakinan; karena tidak berkeyakinan, ia tidak membangkitkan semangat untuk meninggalkan kondisi-kondisi tidak baik dan merealisasikan kondisi-kondisi baik.
So idhappamādamanuyutto viharati pamatto, sukke dhamme na uppādiyati, tassa te anuppādiyamānā nappakāsanti, yathāha bhagavā—
Demikianlah ia berdiam dengan tekun dalam kelengahan, menjadi lengah, dan tidak mengembangkan kualitas-kualitas yang baik. Karena tidak dikembangkan, kualitas-kualitas itu tidak bersinar padanya, seperti yang telah disabdakan oleh Bhagavā: