Paññāya anusayā pahīyanti, anusayesu pahīnesu pariyuṭṭhānā pahīyanti.
Melalui kebijaksanaan (paññā), kecenderungan terpendam (anusaya) ditinggalkan; ketika kecenderungan terpendam telah ditinggalkan, maka gejolak batin (pariyuṭṭhāna) pun lenyap.
Pembagian 2
Paññāya anusayā pahīyanti, anusayesu pahīnesu pariyuṭṭhānā pahīyanti.
Melalui kebijaksanaan (paññā), kecenderungan terpendam (anusaya) ditinggalkan; ketika kecenderungan terpendam telah ditinggalkan, maka gejolak batin (pariyuṭṭhāna) pun lenyap.
Kissa, anusayassa pahīnattā?
Karena ditinggalkannya kecenderungan terpendam yang manakah?
Taṁ yathā khandhavantassa rukkhassa anavasesamūluddharaṇe kate pupphaphalapallavaṅkurasantati samucchinnā bhavati.
Seperti halnya sebatang pohon yang besar, ketika akarnya dicabut hingga tak bersisa, maka bunga, buah, daun, dan tunasnya pun terputus semuanya.
Evaṁ anusayesu pahīnesu pariyuṭṭhānasantati samucchinnā bhavati pidahitā paṭicchannā.
Demikian pula, ketika kecenderungan terpendam telah ditinggalkan, maka kelangsungan gejolak batin terputus, tertutup, dan tersembunyi.
Kena?
Oleh apa?
Paññāya.
Oleh kebijaksanaan.
Tenāha bhagavā “paññāyete pidhīyare”ti.
Oleh karena itu Sang Bhagavā bersabda: "Oleh kebijaksanaan, hal-hal ini ditutup."