Yathā vā pana cakkhuñca paṭicca rūpe ca uppajjati cakkhuviññāṇaṁ.
Atau sebagaimana, dengan bergantung pada mata dan bentuk-bentuk, muncullah kesadaran mata.
Pembagian 15
Yathā vā pana cakkhuñca paṭicca rūpe ca uppajjati cakkhuviññāṇaṁ.
Atau sebagaimana, dengan bergantung pada mata dan bentuk-bentuk, muncullah kesadaran mata.
Tattha cakkhu ādhipateyyapaccayatāya paccayo, rūpā ārammaṇapaccayatāya paccayo.
Di sini, mata adalah kondisi karena sifatnya sebagai penguasa, bentuk-bentuk adalah kondisi karena sifatnya sebagai objek.
Āloko sannissayatāya paccayo, manasikāro sabhāvo hetu.
Cahaya adalah kondisi karena sifatnya sebagai penopang, perhatian adalah sebab karena sifatnya sendiri.
Saṅkhārā viññāṇassa paccayo, sabhāvo hetu.
Bentukan-bentukan kehendak adalah kondisi bagi kesadaran, sebab karena sifatnya sendiri.
Viññāṇaṁ nāmarūpassa paccayo, sabhāvo hetu.
Kesadaran adalah kondisi bagi batin dan jasmani, sebab karena sifatnya sendiri.
Nāmarūpaṁ saḷāyatanassa paccayo, sabhāvo hetu.
Nama-dan-rupa menjadi kondisi bagi enam indra, demikianlah sifat hakikatnya sebagai sebab.
Saḷāyatanaṁ phassassa paccayo, sabhāvo hetu.
Enam indra menjadi kondisi bagi kontak, demikianlah sifat hakikatnya sebagai sebab.
Phasso vedanāya paccayo, sabhāvo hetu.
Kontak menjadi kondisi bagi perasaan, demikianlah sifat hakikatnya sebagai sebab.
Vedanā taṇhāya paccayo, sabhāvo hetu.
Perasaan menjadi kondisi bagi nafsu keinginan, demikianlah sifat hakikatnya sebagai sebab.
Taṇhā upādānassa paccayo, sabhāvo hetu.
Nafsu keinginan menjadi kondisi bagi kemelekatan, demikianlah sifat hakikatnya sebagai sebab.
Upādānaṁ bhavassa paccayo, sabhāvo hetu.
Kemelekatan menjadi kondisi bagi penjelmaan, demikianlah sifat hakikatnya sebagai sebab.
Bhavo jātiyā paccayo, sabhāvo hetu.
Penjelmaan menjadi kondisi bagi kelahiran, demikianlah sifat hakikatnya sebagai sebab.
Jāti jarāmaraṇassa paccayo, sabhāvo hetu.
Kelahiran menjadi kondisi bagi penuaan-dan-kematian, demikianlah sifat hakikatnya sebagai sebab.
Jarāmaraṇaṁ sokassa paccayo, sabhāvo hetu.
Penuaan-dan-kematian menjadi kondisi bagi kesedihan, demikianlah sifat hakikatnya sebagai sebab.
Soko paridevassa paccayo, sabhāvo hetu.
Kesedihan menjadi kondisi bagi ratap tangis, demikianlah sifat hakikatnya sebagai sebab.
Paridevo dukkhassa paccayo, sabhāvo hetu.
Ratap tangis menjadi kondisi bagi penderitaan, demikianlah sifat hakikatnya sebagai sebab.
Dukkhaṁ domanassassa paccayo, sabhāvo hetu.
Penderitaan menjadi kondisi bagi kekesalan batin, demikianlah sifat hakikatnya sebagai sebab.
Domanassaṁ upāyāsassa paccayo, sabhāvo hetu.
Kekesalan batin menjadi kondisi bagi keputusasaan, demikianlah sifat hakikatnya sebagai sebab.
Evaṁ yo koci upanissayo sabbo so parikkhāro.
Demikianlah, segala sesuatu yang menjadi kondisi penopang, semuanya itu adalah perlengkapan.
Tenāha āyasmā mahākaccāyano “ye dhammā yaṁ dhammaṁ janayantī”ti.
Oleh karena itu Yang Mulia Mahākaccāyana berkata: “Dhamma-dhamma manapun yang melahirkan dhamma tertentu.”
Niyutto parikkhāro hāro.
Demikianlah selesai bagian yang disebut Hāra Perlengkapan.