<b>Tasmā hi diṭṭhaṁ va sutaṁ mutaṁ vā, sīlabbataṁ bhikkhu na nissayeyyā</b>ti.
<b>Oleh karena itu, apa yang telah dilihat, didengar, atau dirasakan, serta moralitas dan praktik pertapaan, sebaiknya tidak dijadikan sandaran oleh seorang bhikkhu.</b>
5. Penjelasan Sutta Paramaṭṭhaka
<b>Tasmā hi diṭṭhaṁ va sutaṁ mutaṁ vā, sīlabbataṁ bhikkhu na nissayeyyā</b>ti.
<b>Oleh karena itu, apa yang telah dilihat, didengar, atau dirasakan, serta moralitas dan praktik pertapaan, sebaiknya tidak dijadikan sandaran oleh seorang bhikkhu.</b>
<b>Tasmā</b>ti tasmā taṅkāraṇā taṁhetu tappaccayā taṁnidānā diṭṭhaṁ vā diṭṭhasuddhiṁ vā sutaṁ vā sutasuddhiṁ vā mutaṁ vā mutasuddhiṁ vā sīlaṁ vā sīlasuddhiṁ vā vataṁ vā vatasuddhiṁ vā na nissayeyya na gaṇheyya na parāmaseyya nābhiniveseyyāti—
<b>Oleh karena itu</b>—karena alasan itu, dengan sebab itu, dengan kondisi itu, dengan sumber itu—apa yang telah dilihat atau pemurnian melalui penglihatan, apa yang telah didengar atau pemurnian melalui pendengaran, apa yang telah dirasakan atau pemurnian melalui perasaan, moralitas atau pemurnian melalui moralitas, praktik pertapaan atau pemurnian melalui praktik pertapaan—tidak boleh dijadikan sandaran, tidak boleh dipegang, tidak boleh dilekati, tidak boleh diyakini—
tasmā hi diṭṭhaṁ va sutaṁ mutaṁ vā sīlabbataṁ bhikkhu na nissayeyya.
oleh karena itu, apa yang telah dilihat, didengar, atau dirasakan, serta moralitas dan praktik pertapaan, sebaiknya tidak dijadikan sandaran oleh seorang bhikkhu.