<b>Okkhittacakkhu na ca pādalolo</b>ti.
<b>Dengan mata tertunduk, tidak pula kaki yang berkeliaran</b>—
16. Penjelasan Sutta Sāriputta
<b>Okkhittacakkhu na ca pādalolo</b>ti.
<b>Dengan mata tertunduk, tidak pula kaki yang berkeliaran</b>—
Kathaṁ khittacakkhu hoti?
Bagaimanakah seseorang itu bermata berkeliaran?
Idhekacco bhikkhu cakkhulolo, cakkhuloliyena samannāgato hoti, “adiṭṭhaṁ dakkhitabbaṁ, diṭṭhaṁ samatikkamitabban”ti ārāmena ārāmaṁ uyyānena uyyānaṁ gāmena gāmaṁ nigamena nigamaṁ nagarena nagaraṁ raṭṭhena raṭṭhaṁ janapadena janapadaṁ dīghacārikaṁ anavaṭṭhitacārikaṁ anuyutto ca hoti rūpadassanāya.
Di sini, seorang bhikkhu tertentu gemar pada pemandangan, memiliki kegemaran pada pemandangan, berpikir, 'Yang belum terlihat harus dilihat, yang telah terlihat harus dilampaui,' dan ia bertekun dalam perjalanan jauh, perjalanan tanpa menetap, dari taman ke taman, dari kebun ke kebun, dari desa ke desa, dari kota ke kota, dari negara ke negara, dari daerah ke daerah, demi melihat bentuk-bentuk.
Evampi khittacakkhu hoti.
Demikianlah ia bermata berkeliaran.