<b>Adakkhi ce kiñhi tumassa tenā</b>ti.
<b>Jika ia melihat, apakah itu baginya?</b>
13. Penjelasan Sutta Mahābyūha
<b>Adakkhi ce kiñhi tumassa tenā</b>ti.
<b>Jika ia melihat, apakah itu baginya?</b>
<b>Adakkhī</b>ti paracittañāṇena vā adakkhi, pubbenivāsānussatiñāṇena vā adakkhi, maṁsacakkhunā vā adakkhi, dibbena cakkhunā vā adakkhīti—
<b>Melihat</b>—apakah ia melihat dengan pengetahuan pikiran orang lain, atau melihat dengan pengetahuan mengingat kehidupan lampau, atau melihat dengan mata jasmani, atau melihat dengan mata dewa—
adakkhi ce.
ia melihat.
<b>Kiñhi tumassa tenā</b>ti.
<b>Apakah gunanya itu baginya?</b>
Tassa tena dassanena kiṁ kataṁ?
Apakah yang telah dilakukan oleh penglihatan itu baginya?
Na dukkhapariññā atthi, na samudayassa pahānaṁ atthi, na maggabhāvanā atthi, na phalasacchikiriyā atthi, na rāgassa samucchedapahānaṁ atthi, na dosassa samucchedapahānaṁ atthi, na mohassa samucchedapahānaṁ atthi, na kilesānaṁ samucchedapahānaṁ atthi, na saṁsāravaṭṭassa upacchedo atthīti—
Tidak ada pemahaman sempurna atas penderitaan, tidak ada penghentian asal-mula, tidak ada pengembangan jalan, tidak ada realisasi buah, tidak ada pemutusan total nafsu, tidak ada pemutusan total kebencian, tidak ada pemutusan total delusi, tidak ada pemutusan total kekotoran batin, tidak ada pemutusan lingkaran saṁsāra—
adakkhi ce kiñhi tumassa tena.
Jika ia melihat, apakah itu miliknya?