Cakkhunā rūpaṁ disvā rajanīye na rajjati, dussanīye na dussati, mohanīye na muyhati, kopanīye na kuppati, madanīye na majjati, kilesanīye na kilissati.
Setelah melihat bentuk dengan mata, pada yang menggoda ia tidak tergoda, pada yang memicu kebencian ia tidak membenci, pada yang memicu delusi ia tidak terdelusi, pada yang memicu kemarahan ia tidak marah, pada yang memicu kemabukan ia tidak mabuk, pada yang memicu kekotoran ia tidak ternoda.
manasā dhammaṁ viññāya rajanīye na rajjati dussanīye na dussati, mohanīye na muyhati, kopanīye na kuppati, madanīye na majjati, kilesanīye na kilissati.
Setelah menyadari fenomena pikiran dengan pikiran, pada yang menggoda ia tidak tergoda, pada yang memicu kebencian ia tidak membenci, pada yang memicu delusi ia tidak terdelusi, pada yang memicu kemarahan ia tidak marah, pada yang memicu kemabukan ia tidak mabuk, pada yang memicu kekotoran ia tidak ternoda.
Pada yang terlihat hanya sekadar terlihat, pada yang terdengar hanya sekadar terdengar, pada yang terasa hanya sekadar terasa, pada yang tersadari hanya sekadar tersadari.
Pada yang terlihat, ia tidak mendekat, tidak menjauh, tidak bersandar, tidak terikat, terbebas, terlepas, berdiam dengan pikiran yang melampaui batas-batas.
Pada yang tersadari, ia tidak mendekat, tidak menjauh, tidak bersandar, tidak terikat, terbebas, terlepas, berdiam dengan pikiran yang melampaui batas-batas.