“Jika, Yang Mulia Nāgasena, umat awam yang hidup berumah tangga dan menikmati kenikmatan indria mencapai realitas tertinggi, Nibbāna, lalu untuk tujuan apakah praktik-praktik pertapaan ini dijalankan? Karena alasan itu, praktik-praktik pertapaan menjadi tidak berguna.
Jika, Yang Mulia Nāgasena, penyakit dapat diredakan tanpa mantra dan obat-obatan, lalu apa gunanya tindakan seperti memuntahkan dan membersihkan perut yang melemahkan tubuh?
Jika seseorang dapat memanjat pohon dengan berpegangan pada cabang, ranting, lubang, sulur, dan dahan, lalu apa gunanya mencari tangga yang panjang dan kokoh?
Jika seseorang mampu menyeberangi hutan belantara yang berbahaya, menakutkan, dan tidak rata sendirian, lalu apa gunanya mencari pasukan besar yang lengkap dan siap siaga?
Jika seseorang mampu memenuhi kebutuhan makan dan pakaiannya sendiri, lalu apa gunanya melayani orang lain, berbicara ramah, dan berlari ke sana kemari?”
Demikian pula, Bhante Nāgasena, jika para perumah tangga yang hidup berumah tangga dan menikmati kenikmatan indria dapat merealisasikan Nibbāna, tujuan tertinggi, apa gunanya menjalankan praktik pertapaan yang utama?"