Api ca, mahārāja, vessantarassa dānapatino evaṁ ahosi ‘yaṁ so brāhmaṇo yācati, tamevāhaṁ tassa dento kiccakārī nāma homī’ti, evaṁ so tassa puttadāramadāsi.
Dan lagi, Baginda Raja, dalam diri Vessantara sang dermawan timbul pemikiran demikian: 'Apa pun yang diminta oleh brahmana itu, dengan memberikannya kepadanya, aku menjadi orang yang melakukan kewajiban.' Demikianlah ia memberikan anak dan istrinya kepada brahmana itu.
Na kho, mahārāja, vessantaro dānapati dessatāya brāhmaṇassa puttadāramadāsi, na adassanakāmatāya puttadāramadāsi, na atibahukā me puttadārā, ‘na sakkomi te posetun’ti puttadāramadāsi, na ukkaṇṭhito ‘appiyā me’ti nīharitukāmatāya puttadāramadāsi.
Sesungguhnya, Baginda Raja, Vessantara sang dermawan tidak memberikan anak dan istrinya kepada brahmana karena kebencian, tidak memberikan anak dan istrinya karena keinginan untuk tidak melihat mereka, tidak memberikan anak dan istrinya karena berpikir 'Anak dan istriku terlalu banyak, aku tidak mampu menghidupi mereka', dan tidak memberikan anak dan istrinya karena merasa jemu dengan keinginan untuk menyingkirkan mereka yang 'tidak kusayangi'.
Akan tetapi, justru karena kecintaan pada permata pengetahuan segala sesuatu (sabbaññutañāṇa) semata, demi pengetahuan segala sesuatu itulah, Raja Vessantara memberikan kepada brahmana itu anugerah terbaik berupa anak dan istri, yang tak tertandingi, agung, mulia, menyenangkan, dicintai, dan setara dengan kehidupannya sendiri.