Seperti halnya, Baginda Raja, ada seorang laki-laki yang menanam benih di ladang, kemudian dengan kekuatan dan kegigihannya sendiri, tanpa membuat pagar tembok, ia memanen padi. Ada pula seorang laki-laki lain yang menanam benih di ladang, kemudian masuk ke hutan, memotong kayu dan ranting, membuat pagar tembok, lalu memanen padi.
Evameva kho, mahārāja, ye te sabhāvaparisuddhā pubbe vāsitavāsanā, te ekacittakkhaṇena nippapañcā honti, vinā vatipākāraṁ puriso viya dhaññuddhāro.
Demikian pula, Baginda Raja, mereka yang pada dasarnya telah bersih dan telah terlatih dengan baik sejak sebelumnya, mereka menjadi bebas dari segala kekusutan pikiran hanya dalam satu momen kesadaran, bagaikan orang yang memanen padi tanpa perlu membuat pagar tembok.
Ye pana te bhikkhū mahārajakkhā, te imehi payogehi nippapañcā honti, vatipākāraṁ katvā puriso viya dhaññuddhāro.
Akan tetapi, para bhikkhu yang sangat terganggu oleh kekotoran batin yang besar, mereka menjadi bebas dari segala kekusutan pikiran melalui usaha-usaha ini, bagaikan orang yang memanen padi setelah membuat pagar tembok.