Atau bagaikan, Baginda Raja, seseorang yang sangat sakit parah, setelah melihat seorang tabib dan ahli bedah yang mahir dalam mengetahui asal-usul penyakit dan yang karyanya pasti berhasil tanpa gagal, lalu mengabaikan pengobatannya dan kembali dengan penyakitnya tetap ada. Di antara keduanya, siapakah yang akan dicela orang-orang — orang yang sakit itu ataukah tabibnya?"
"Orang yang sakit itulah, Bhante, yang akan dicela orang-orang: 'Orang ini telah melihat seorang tabib dan ahli bedah yang mahir dalam mengetahui asal-usul penyakit dan yang karyanya pasti berhasil tanpa gagal, lalu mengabaikan pengobatannya dan kembali dengan penyakitnya tetap ada. Apa gunanya tabib itu mengobati orang yang mengabaikan pengobatannya? Apa salahnya tabib itu?'"
"Demikian pula, Baginda Raja, Sang Tathāgata telah menempatkan di dalam peti ajaran-Nya obat keabadian yang mampu meredakan seluruh penyakit kekotoran batin secara menyeluruh, dengan pemikiran: 'Mereka yang cerdas dan sadar, yang tersiksa oleh penyakit kekotoran batin, setelah meminum obat keabadian ini akan meredakan seluruh penyakit kekotoran batin mereka.'
Jika seseorang tidak meminum obat keabadian itu, melainkan kembali dengan segala kekotoran batinnya dan jatuh kembali ke kehidupan duniawi, maka orang-orang akan mencela orang itu sendiri: 'Orang ini telah meninggalkan keduniawian dalam ajaran Sang Penakluk, tetapi tidak memperoleh landasan kokoh di dalamnya, lalu jatuh kembali ke kehidupan duniawi. Apa gunanya ia mengajarkan ajaran Sang Penakluk kepada orang lain padahal ia sendiri tidak menjalankannya? Apa salahnya ajaran Sang Penakluk?'"