Apakah, Yang Mulia Nāgasena, Sang Tathāgata mundur karena takut, atau mundur karena tidak jelasnya (Dhamma), atau mundur karena kelemahan, atau mundur karena bukan kemahatahuan? Apakah sebabnya dalam hal itu? Sudilah engkau menyatakan sebab itu kepadaku untuk menyeberangi keragu-raguan.
Yadi, bhante nāgasena, tathāgatena catūhi ca asaṅkhyeyyehi kappānaṁ satasahassena ca etthantare sabbaññutañāṇaṁ paripācitaṁ mahato janakāyassa samuddharaṇāya, tena hi ‘sabbaññutaṁ pattassa appossukkatāya cittaṁ nami, no dhammadesanāyā’ti yaṁ vacanaṁ, taṁ micchā.
Jika, Yang Mulia Nāgasena, oleh Sang Tathāgata, setelah mematangkan pengetahuan tentang kemahatahuan dalam rentang waktu empat asaṅkhyeyya dan seratus ribu kappa demi menyelamatkan banyak orang, maka ucapan ini: 'pikiran Beliau condong pada ketidakpedulian, bukan pada pengajaran Dhamma, setelah mencapai kemahatahuan' adalah salah.
Yadi sabbaññutaṁ pattassa appossukkatāya cittaṁ nami no dhammadesanāya, tena hi ‘tathāgatena catūhi ca asaṅkhyeyyehi kappānaṁ satasahassena ca etthantare sabbaññutañāṇaṁ paripācitaṁ mahato janakāyassa samuddharaṇāyā’ti tampi vacanaṁ micchā.
Jika setelah mencapai kemahatahuan pikiran Beliau condong pada ketidakpedulian, bukan pada pengajaran Dhamma, maka ucapan ini: 'oleh Sang Tathāgata, setelah mematangkan pengetahuan tentang kemahatahuan dalam rentang waktu empat asaṅkhyeyya dan seratus ribu kappa demi menyelamatkan banyak orang' itu juga salah.