Yathā, mahārāja, rājakumāro purohitassa santike vijjaṁ adhīyati, khattiyadhammaṁ sikkhati, so aparena samayena abhisitto ācariyaṁ abhivādeti paccuṭṭheti ‘sikkhāpako me ayan’ti;
Seperti halnya, Baginda, seorang pangeran yang mempelajari pengetahuan di hadapan pendeta kerajaan dan berlatih tata krama para ksatria, maka di kemudian hari setelah dinobatkan, ia memberi hormat dan berdiri menyambut gurunya, sambil berkata: 'Orang inilah yang mengajarku';
Demikian pula, Baginda, seorang umat awam yang telah mencapai tingkat pemasuk arus (sotāpanna) layak memberi hormat dan berdiri menyambut seorang bhikkhu yang masih seorang duniawi (puthujjana), dengan berpikir: 'Bhikkhu inilah yang mengajarku dan pewaris tradisi'."