Yathā vā pana, mahārāja, ye keci sattā saccamanugāyanti ‘jalitapajjalitamahāaggikkhandho paṭinivattatū’ti, tesaṁ saha saccamanugītena jalitapajjalitamahāaggikkhandho khaṇena paṭinivattati.
“Atau seperti, Baginda, makhluk-makhluk tertentu mengucapkan kebenaran: ‘Semoga tumpukan api besar yang menyala-nyala berbalik!’—dan bersama dengan pengucapan kebenaran itu, tumpukan api besar yang menyala-nyala berbalik seketika.
Api nu kho, mahārāja, atthi tasmiṁ jalitapajjalite mahāaggikkhandhe hetu sannicito ‘yena hetunā jalitapajjalitamahāaggikkhandho khaṇena paṭinivattatī’”ti?
Tetapi, Baginda, adakah dalam tumpukan api besar yang menyala-nyala itu sebab yang terkumpul ‘yang karenanya tumpukan api besar yang menyala-nyala berbalik seketika’?”
“Tidak, Bhante, bukan sebab alamiah yang menjadi dasar bagi padamnya seketika tumpukan api yang besar dan menyala-nyala itu, melainkan kebenaran itu sendirilah yang menjadi dasarnya.”