mil2:65.1 Pada saat itu, Yang Mulia Nāgasena, dikelilingi oleh para pertapa, seorang pemimpin Saṅgha, seorang guru bagi kelompoknya, seorang guru bagi para pengikutnya, terkenal, termasyhur, dipandang baik oleh banyak orang, bijaksana, cakap, cerdas, tajam, berpengertian, berpengetahuan, terlatih, percaya diri, banyak belajar, penguasa Tipiṭaka, mencapai puncak pengetahuan, memiliki kebijaksanaan yang sempurna, menguasai ajaran, memiliki analisis yang sempurna, pengemban sembilan bagian ajaran Sang Guru, mencapai kesempurnaan dalam ajaran Sang Jina, mahir dalam menembus makna Dhamma dan khotbah-khotbah, memiliki kecerdasan yang tak terbatas dan beragam, pembicara yang luwes, berucap baik, sulit didekati, sulit dikalahkan, sulit dilampaui, sulit dihalangi, sulit dicegah, bagaikan samudra yang tak tergoyahkan, bagaikan raja gunung yang tak bergeming, telah meninggalkan pertempuran, penghalau kegelapan, pembawa cahaya, pembabar agung, peremuk kelompok-kelompok lawan, penakluk para pertapa pengikut ajaran lain, dihormati, dihargai, dimuliakan, dipuja, dan disembah oleh para bhikkhu, bhikkhuni, umat awam laki-laki dan perempuan, para raja, dan para menteri raja; penerima jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan; mencapai puncak kehormatan dan kemasyhuran; ia menuntun para bijaksana yang mendengarkan dengan penuh perhatian pada permata sembilan bagian ajaran Sang Jina, menunjukkan jalan Dhamma, memegang obor Dhamma, menegakkan tiang Dhamma, mempersembahkan pengorbanan Dhamma, mengibarkan panji Dhamma, menegakkan bendera Dhamma, meniup sangkakala Dhamma, memukul genderang Dhamma, mengaumkan raungan singa, menggema seperti gajah Indra, dengan suara merdu dan gemuruh yang diselimuti kilat pengetahuan yang mulia, dipenuhi dengan air belas kasih, menyiram seluruh dunia dengan awan besar nektar Dhamma, berkelana dari kota ke kota, dari desa ke desa, dari ibu kota ke ibu kota, akhirnya tiba di kota Sāgala.
BAGIAN 65