“Seorang bhikkhu, para bhikkhu, harus memeriksa sedemikian rupa sehingga, ketika memeriksa, kesadarannya tidak tercerai-berai maupun menyebar ke luar, tidak melekat ke dalam, dan karena tidak menggenggam, ia tidak akan cemas.
“A mendicant should examine in whatever way such that, while examining, consciousness would neither be scattered nor diffused externally, nor stuck internally, and they would not be anxious because of grasping.
Bahiddhā, bhikkhave, viññāṇe avikkhitte avisaṭe sati ajjhattaṁ asaṇṭhite anupādāya aparitassato āyatiṁ jātijarāmaraṇadukkhasamudayasambhavo na hotī”ti.
Ketika kesadaran tidak tercerai-berai maupun menyebar ke luar, tidak melekat ke dalam, dan karena tidak menggenggam, ia tidak cemas, maka tidak akan ada kemunculan asal mula penderitaan—kelahiran kembali, penuaan, dan kematian—di masa depan.”
When consciousness is neither scattered nor diffused externally, nor stuck internally, and they are not anxious because of grasping, there is no coming to be of the origin of suffering—of rebirth, old age, and death in the future.”