“Antamidaṁ, bhikkhave, jīvikānaṁ yadidaṁ piṇḍolyaṁ.
“Ini adalah cara hidup yang terakhir, para bhikkhu, yaitu mengandalkan dana makanan.
“This is the last of lifestyles, mendicants, namely relying on alms.
Bab Kelima
“Antamidaṁ, bhikkhave, jīvikānaṁ yadidaṁ piṇḍolyaṁ.
“Ini adalah cara hidup yang terakhir, para bhikkhu, yaitu mengandalkan dana makanan.
“This is the last of lifestyles, mendicants, namely relying on alms.
Abhisāpoyaṁ, bhikkhave, lokasmiṁ: ‘piṇḍolo vicarasi pattapāṇī’ti.
Dunia mengutuk ini, para bhikkhu: ‘Engkau pengemis, berjalan dengan mangkuk di tangan!’
The world curses you: ‘You beggar, walking bowl in hand!’
Tañca kho etaṁ, bhikkhave, kulaputtā upenti atthavasikā, atthavasaṁ paṭicca;
Namun demikian, para bhikkhu, orang-orang baik dari keluarga terhormat menjalaninya karena suatu alasan yang baik, dengan mengandalkan alasan itu;
Yet earnest gentlemen take it up for a good reason.
neva rājābhinītā, na corābhinītā, na iṇaṭṭā, na bhayaṭṭā, na ājīvikāpakatā.
bukan karena dipaksa oleh raja, bukan karena dipaksa oleh perampok, bukan karena terlilit utang, bukan karena ketakutan, bukan karena kehilangan mata pencaharian.
Not to escape a summons by a king or a summons for a bandit, or because you were in debt or in fear, or in order to make a living.
Api ca kho ‘otiṇṇamhā jātiyā jarāya maraṇena sokehi paridevehi dukkhehi domanassehi upāyāsehi dukkhotiṇṇā dukkhaparetā,
Melainkan karena berpikir: ‘Kami diliputi oleh kelahiran, penuaan, dan kematian; oleh kesedihan, ratapan, penderitaan, kesedihan batin, dan keputusasaan. Kami diliputi oleh penderitaan, tenggelam dalam penderitaan.
Rather, because they think: ‘I’m swamped by rebirth, old age, and death; by sorrow, lamentation, pain, sadness, and distress. I’m swamped by suffering, mired in suffering.
appeva nāma imassa kevalassa dukkhakkhandhassa antakiriyā paññāyethā’ti.
Semoga aku dapat mengakhiri seluruh kumpulan penderitaan ini.’
Hopefully I can make an end to this entire mass of suffering.’
Evaṁ pabbajito cāyaṁ, bhikkhave, kulaputto.
Demikianlah, para bhikkhu, pemuda dari keluarga baik ini telah meninggalkan keduniawian.
That’s how this gentleman has gone forth.
So ca hoti abhijjhālu kāmesu tibbasārāgo, byāpannacitto paduṭṭhamanasaṅkappo, muṭṭhassati asampajāno asamāhito vibbhantacitto pākatindriyo.
Akan tetapi, ia masih memiliki keinginan terhadap kenikmatan indra, sangat terikat pada nafsu, berpikiran jahat dengan niat buruk, tidak waspada, tanpa pemahaman jernih, tidak terkonsentrasi, dengan pikiran yang kacau dan indra yang tidak terkendali.
Yet they covet sensual pleasures; they’re infatuated, full of ill will and malicious intent. They are unmindful, lacking situational awareness and immersion, with straying minds and undisciplined faculties.
Seyyathāpi, bhikkhave, chavālātaṁ ubhatopadittaṁ majjhe gūthagataṁ neva gāme kaṭṭhatthaṁ pharati na araññe;
Bagaikan, para bhikkhu, sepotong kayu pembakar jenazah yang terbakar di kedua ujungnya dan berlumuran kotoran di bagian tengahnya—tidak dapat digunakan sebagai kayu bakar baik di desa maupun di hutan.
Suppose there was a firebrand for lighting a funeral pyre, burning at both ends, and smeared with dung in the middle. It couldn’t be used as timber either in the village or the wilderness.
tathūpamāhaṁ, bhikkhave, imaṁ puggalaṁ vadāmi gihibhogā parihīno sāmaññatthañca na paripūretī”ti.
Demikian pula, para bhikkhu, Aku katakan orang semacam ini: ia telah kehilangan kenikmatan kehidupan awam dan tidak memenuhi tujuan kehidupan pertapaan.”
I say that individual is just like this. They’ve missed out on the pleasures of the lay life, and haven’t fulfilled the goal of the ascetic life.”
Etamatthaṁ bhagavā avoca.
Sang Bhagavā telah menyampaikan hal ini.
The Buddha spoke this matter.
Tatthetaṁ iti vuccati:
Mengenai hal ini, dikatakan:
On this it is said: