“Tayome, bhikkhave, devesu devasaddā niccharanti samayā samayaṁ upādāya.
“Para bhikkhu, ada tiga seruan para dewa yang bergema di kalangan para dewa, muncul dari waktu ke waktu.
“Mendicants, these three cries are uttered among the gods on occasion.
Bab Keempat
“Tayome, bhikkhave, devesu devasaddā niccharanti samayā samayaṁ upādāya.
“Para bhikkhu, ada tiga seruan para dewa yang bergema di kalangan para dewa, muncul dari waktu ke waktu.
“Mendicants, these three cries are uttered among the gods on occasion.
Katame tayo?
Apakah tiga itu?
What three?
Yasmiṁ, bhikkhave, samaye ariyasāvako kesamassuṁ ohāretvā kāsāyāni vatthāni acchādetvā agārasmā anagāriyaṁ pabbajjāya ceteti, tasmiṁ samaye devesu devasaddo niccharati:
Para bhikkhu, ketika seorang siswa mulia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan berniat meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, pada saat itu seruan para dewa bergema di kalangan para dewa:
When a noble disciple shaves off their hair and beard, dresses in ocher robes, and goes forth from the lay life to homelessness, the gods cry out:
‘eso ariyasāvako mārena saddhiṁ saṅgāmāya cetetī’ti.
‘Siswa mulia ini berniat untuk bertempur melawan Māra!’
‘This noble disciple intends to join battle with Māra!’
Ayaṁ, bhikkhave, paṭhamo devesu devasaddo niccharati samayā samayaṁ upādāya.
Ini, para bhikkhu, adalah seruan pertama yang bergema di antara para dewa, dari waktu ke waktu.
This is the first occasion a cry is uttered among the gods.