“Tisso imā, bhikkhave, vedanā.
“Para bhikkhu, ada tiga perasaan ini.
“Mendicants, there are these three feelings.
Bab Pertama
“Tisso imā, bhikkhave, vedanā.
“Para bhikkhu, ada tiga perasaan ini.
“Mendicants, there are these three feelings.
Katamā tisso?
Apakah tiga itu?
What three?
Sukhā vedanā, dukkhā vedanā, adukkhamasukhā vedanā.
Perasaan menyenangkan, perasaan menyakitkan, dan perasaan yang tidak menyenangkan maupun tidak menyakitkan.
Pleasant, painful, and neutral feeling.
Sukhā, bhikkhave, vedanā dukkhato daṭṭhabbā;
Para bhikkhu, perasaan menyenangkan harus dilihat sebagai penderitaan;
Pleasant feeling should be seen as suffering.
dukkhā vedanā sallato daṭṭhabbā;
perasaan menyakitkan harus dilihat sebagai anak panah.
Painful feeling should be seen as a dart.
adukkhamasukhā vedanā aniccato daṭṭhabbā.
Perasaan yang netral harus dilihat sebagai sesuatu yang tidak kekal.
Neutral feeling should be seen as impermanent.
Yato kho, bhikkhave, bhikkhuno sukhā vedanā dukkhato diṭṭhā hoti, dukkhā vedanā sallato diṭṭhā hoti, adukkhamasukhā vedanā aniccato diṭṭhā hoti;
Ketika, para bhikkhu, seorang bhikkhu telah melihat perasaan menyenangkan sebagai penderitaan, perasaan menyakitkan sebagai anak panah, dan perasaan netral sebagai sesuatu yang tidak kekal;
When a mendicant has seen these three feelings in this way,
ayaṁ vuccati, bhikkhave, ‘bhikkhu ariyo, sammaddaso, acchecchi taṇhaṁ, vivattayi saṁyojanaṁ, sammā mānābhisamayā antamakāsi dukkhassā’”ti.
maka ia disebut, para bhikkhu, ‘seorang bhikkhu yang mulia, yang melihat dengan benar, telah memotong ketagihan, telah melepaskan belenggu-belenggu, dan dengan memahami keangkuhan secara sempurna telah mengakhiri penderitaan’.”
they’re called a noble mendicant who sees rightly, has cut off craving, cast off the fetters, and by rightly comprehending conceit has made an end of suffering.”
Etamatthaṁ bhagavā avoca.
Sang Bhagavā menyampaikan hal ini.
The Buddha spoke this matter.
Tatthetaṁ iti vuccati:
Mengenai hal ini, demikianlah dikatakan:
On this it is said: