“Para bhikkhu, para petapa atau brahmana mana pun yang tidak memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; yang tidak memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; yang tidak memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; yang tidak memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan’—
“Mendicants, there are ascetics and brahmins who don’t truly understand about suffering, its origin, its cessation, and the path.
na me te, bhikkhave, samaṇā vā brāhmaṇā vā samaṇesu vā samaṇasammatā brāhmaṇesu vā brāhmaṇasammatā, na ca panete āyasmanto sāmaññatthaṁ vā brahmaññatthaṁ vā diṭṭheva dhamme sayaṁ abhiññā sacchikatvā upasampajja viharanti.
para petapa atau brahmana itu, para bhikkhu, tidak kuanggap sebagai petapa di antara para petapa, atau brahmana di antara para brahmana. Dan para mulia itu tidak mencapai, dengan pengetahuan langsung mereka sendiri, tujuan kehidupan pertapaan atau tujuan kebrahmanaan, dan tidak berdiam di dalamnya setelah menyadarinya dalam kehidupan ini juga.
I don’t deem them as true ascetics and brahmins. Those venerables don’t realize the goal of life as an ascetic or brahmin, and don’t live having realized it with their own insight in this very life.