Puna caparaṁ, bhikkhave, kāmahetu kāmanidānaṁ kāmādhikaraṇaṁ kāmānameva hetu rājānopi rājūhi vivadanti, khattiyāpi khattiyehi vivadanti, brāhmaṇāpi brāhmaṇehi vivadanti, gahapatīpi gahapatīhi vivadanti, mātāpi puttena vivadati, puttopi mātarā vivadati, pitāpi puttena vivadati, puttopi pitarā vivadati, bhātāpi bhaginiyā vivadati, bhaginīpi bhātarā vivadati, sahāyopi sahāyena vivadati.
Selanjutnya, para bhikkhu, karena kenikmatan indria, bersumber pada kenikmatan indria, dengan kenikmatan indria sebagai alasannya, semata-mata karena kenikmatan indria, raja-raja bertengkar dengan raja-raja, para khattiya bertengkar dengan para khattiya, para brahmana bertengkar dengan para brahmana, para perumah tangga bertengkar dengan para perumah tangga, ibu bertengkar dengan anak, anak bertengkar dengan ibu, ayah bertengkar dengan anak, anak bertengkar dengan ayah, saudara laki-laki bertengkar dengan saudara perempuan, saudara perempuan bertengkar dengan saudara laki-laki, sahabat bertengkar dengan sahabat.