Kathaṁ bhagavā adutiyaṭṭhena eko?
Bagaimana Bhagavā sendirian dalam arti tanpa yang kedua?
18. Niddesa tentang Syair-syair Pujian Pārāyana
Kathaṁ bhagavā adutiyaṭṭhena eko?
Bagaimana Bhagavā sendirian dalam arti tanpa yang kedua?
Evaṁ pabbajito samāno eko araññavanapatthāni pantāni senāsanāni paṭisevati appasaddāni appanigghosāni vijanavātāni manussarāhasseyyakāni paṭisallānasāruppāni.
Setelah ditahbiskan demikian, ia mendiami tempat-tempat tinggal terpencil di hutan dan belantara, yang sepi, sunyi, terasing dari keramaian manusia, dan cocok untuk bertapa menyendiri.
So eko gacchati, eko tiṭṭhati, eko nisīdati, eko seyyaṁ kappeti, eko gāmaṁ piṇḍāya pavisati, eko abhikkamati, eko paṭikkamati, eko raho nisīdati, eko caṅkamaṁ adhiṭṭhāti, eko carati viharati iriyati vatteti pāleti yapeti yāpeti.
Ia berjalan sendirian, berdiri sendirian, duduk sendirian, berbaring sendirian, memasuki desa untuk berpindapatta sendirian, pergi sendirian, kembali sendirian, duduk di tempat sunyi sendirian, berjalan mondar-mandir sendirian, hidup, berdiam, bergerak, beraktivitas, menjaga, dan melanjutkan kehidupannya sendirian.
Evaṁ bhagavā adutiyaṭṭhena eko.
Demikianlah Bhagavā disebut 'eka' (sendirian) dalam arti tanpa pendamping.