Evaṁ me sutaṁ—
Demikianlah telah kudengar:
So I have heard.
Khotbah oleh Mahācunda
Sutta ini menyoroti dinamika internal komunitas para bhikkhu yang bisa saja terpecah karena perbedaan pendekatan dalam berlatih. Mari kita simak bagaimana Mahācunda menegur sikap saling merendahkan dan mengajak kedua kelompok untuk saling menghargai.
Yang Mulia Mahācunda menyampaikan khotbah kepada para bhikkhu tentang bahaya perpecahan antara dua kelompok praktisi: mereka yang tekun mempelajari Dhamma (dhammayoga) dan mereka yang tekun bermeditasi (jhāyī). Ia menjelaskan bagaimana sikap saling merendahkan dan hanya memuji kelompok sendiri tidak hanya merugikan kedua belah pihak, tetapi juga mengabaikan kesejahteraan banyak makhluk. Mahācunda menekankan pentingnya saling menghargai, karena kedua jenis praktisi ini sama-sama langka dan berharga di dunia.
Evaṁ me sutaṁ—
Demikianlah telah kudengar:
So I have heard.
ekaṁ samayaṁ āyasmā mahācundo cetīsu viharati sayaṁjātiyaṁ.
Pada suatu ketika Yang Mulia Mahācunda sedang menetap di negeri Cetī, di Sayaṁjāti.
At one time Venerable Mahācunda was staying in the land of the Cetis at Sahajāti.
Tatra kho āyasmā mahācundo bhikkhū āmantesi:
Di sana Yang Mulia Mahācunda berkata kepada para bhikkhu:
There he addressed the mendicants:
“āvuso bhikkhave”ti.
“Sahabat-sahabat, para bhikkhu!”
“Reverends, mendicants!”
“Āvuso”ti kho te bhikkhū āyasmato mahācundassa paccassosuṁ.
“Sahabat,” jawab para bhikkhu itu kepada Yang Mulia Mahācunda.
“Reverend,” they replied.
Āyasmā mahācundo etadavoca:
Yang Mulia Mahācunda berkata sebagai berikut:
Venerable Mahācunda said this:
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.