Tatra kho āyasmā sāriputto bhikkhū āmantesi:
Di sana Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu:
There Sāriputta addressed the mendicants:
Sutta Penyesalan
Dalam sutta ini, Sāriputta mengajak kita merenungkan bagaimana pilihan keseharian seorang bhikkhu—bahkan hal-hal yang tampak sepele—berkaitan erat dengan kualitas akhir hayatnya. Mari kita simak dengan tenang, karena pesannya berlaku universal: apa yang kita lekatkan menentukan ke mana kita melangkah.
Yang Mulia Sāriputta menjelaskan kepada para bhikkhu bahwa cara seorang bhikkhu menjalani kehidupannya menentukan apakah ia akan meninggal dengan penyesalan atau tanpa penyesalan. Ia menguraikan enam kegemaran yang menyebabkan penyesalan—pekerjaan, pembicaraan, tidur, kebersamaan, pergaulan, dan proliferasi—serta kebalikannya yang mengarah pada Nibbāna. Sutta ditutup dengan syair yang menegaskan bahwa meninggalkan proliferasi adalah kunci mencapai kebebasan tertinggi.
Tatra kho āyasmā sāriputto bhikkhū āmantesi:
Di sana Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu:
There Sāriputta addressed the mendicants:
“tathā tathāvuso, bhikkhu vihāraṁ kappeti yathā yathāssa vihāraṁ kappayato kālakiriyā anutappā hoti.
“Sahabat, sebagaimana seorang bhikkhu menjalani kehidupannya, demikianlah ia akan menghadapi akhir hayatnya—apakah dengan penyesalan atau tanpa penyesalan.
“As a mendicant makes their bed, so they must lie in it, and die tormented by regrets.
Kathañcāvuso, bhikkhu tathā tathā vihāraṁ kappeti yathā yathāssa vihāraṁ kappayato kālakiriyā anutappā hoti?
Dan bagaimanakah, sahabat, seorang bhikkhu menjalani kehidupannya sehingga pada akhir hayatnya ia diliputi penyesalan?
And how do they die tormented by regrets?
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.